DRAMA KOLOSAL KOREA, CONTOH YANG BAIK BUAT INDONESIA

Posted: Agustus 25, 2011 in my korean notes

Korea layak disebut negeri penuh keajaiban. Korea adalah negeri yang mempunyai peradaban sangat tinggi dibawah tampuk kepemimpinan Dinasti Silla. Dinasti kuat yang hidup pada tahun 57 SM sampai dengan 935 M. Dinasti yang dapat menyatukan 2 kerajaan besar di bawah kendalinya, yakni Baekje dan Goguryeo. Dinasti yang menciptakan terbitan surat kitab Budha pada kisaran 751 M yang bahkan lebih awal 1 abad dibandingkan Diamond China yang sebelumnya diperkirakan dicetak pada blok kayu yang pertama di dunia. Bangsa Korea bahkan menemukan ilmu cetak mencetak buku pada abad 13 (1234 M) lebih awal 2 abad dibandingkan Gutenberg (1455) yang ada di barat. Benar-benar sebuah bangsa yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Namun apa yang terjadi setelah dinasti terakhir Korea runtuh? Ya, Korea kemudian dijajah Jepang tahun 1910 seiring berakhirnya dinasti Joseon. Ini adalah titik peralihan yang pahit bagi Korea. Bayangkan saja, Korea dijajah Jepang selama bertahun-tahun yang menyebabkan ia hancur. Sumber daya alam terkuras habi, pasti.  Kehidupan berbalut dinginnya musim dingin dan gersangnya musim panas membuat mereka sulit untuk bertahan atau bahkan maju. Bahkan putra kebanggaan Korea dipaksa bertarung di olimpiade atas nama Jepang dan ironisnya atlet marathon bernama Sohn Kee Jung itu menang.

Perang dunia 2 berakhir dan Jepang menderita kekalahan hebat. Korea semestinya dapat merdeka seperti negara-negara bekas jajahan Jepang yang lain. Namun langit rupanya masih belum memihak negeri ginseng tersebut. Korea dipaksa menelan pil pahit lantaran perang ideologi antara kubu Liberal kapitalis Amerika dengan sosialis Komunis Uni Soviet. Korea terpecah menjadi 2 kubu yang sangat berseberangan. Kubu yang begitu sarat perbedaan hingga membuat konflik diantara keduanya sering membuncah. Konflik yang sejatinya tidak perlu terjadi karena sejatinya mereka saudara. Saudara yang disatukan pada dinasti Silla, saudara yang bahkan memiliki kebudayaan dan bahasa yang sama. Jadi mengapa ini harus terjadi? Keganasan sebuah doktrin adalah jawabannya. Korea Utara menjalani kehidupan bernegaranya dengan paham yang sangat meyedihkan. Paham yang bahkan memaksa sesama penduduknya saling memakan bak kanibal. Paham yang bahkan melarang warganya menikmati hal seperti music dan film. Berbeda di Selatan yang lebih bebas, kreasi dan inovasi terus berkembang hingga membuat negeri tersebut menjadi salah satu macan asia bahkan kian menyaingi bekas penjajahnya, Jepang.

Korea bak hipnotis yang menyebabkan ia sangat terkemuka seperti sekarang ini. Tidak jauh-jauh, Indonesia adalah salah satu negara yang terkena amuk gelombang Korea (Hallyu). Hallyu adalah sebutan untuk budaya pop Korea seperti drama, film dan music yang menjadikan negeri Korea secara keseluruhan ikut terkenal secara tidak langsung. Hallyu menyebabkan pencintanya menjadi ingin mempelajari Korea keseluruhan baik bahasa maupun budayanya. Dan tentu saja ini adalah peluang besar bagi Korea, peluang ekonomi yang tentunya sangat signifikan dapat didapatkan. Ingin bukti? Pada bulan ini, coba saja hitung berapa drama Korea yang tayang di salah satu stasiun televise swasta kita? Akankah anda kaget dengan jumlahnya yang ternyata 4? Itu adalah bukti paling nyata yang dapat kita cek bersama.

Berbeda dari kebanyakan negara, pemerintah Korea menjadikan drama televisi sebagai komoditi ekspor. Tidak tanggung-tanggung, drama Korea telah menyebar bukan hanya seantero Asia tetapi merambah pasar Amerika. Bahkan aktor Koreapun ada yang didaulat berakting pada film sekelas Hollywood, yakni Rain (Jung Ji Hoon) dalam film Ninja Assasin. Selain itu, rupanya pemerintah Korea pun sangat peduli dengan industry tersebut. Mereka membiayai drama dengan  tema sejarah. Contoh yang bisa kita lihat sekarang adalah drama The Great Queen Seondeok yang kini masih mengudara di televisi kita. Drama yang menceritakan kehidupan ratu Dinasti Silla yang begitu terkenal lengkap dengan sejarah Silla yang terpapar dengan sangat menakjubkan. Drama yang menerima berbagai penghargaan membanggakan itu dipilih sebagai drama nasional yang menjadi kebanggaan rakyat Korea. Di tengah Korea yang penuh kemodernsisasian ternyata mereka tetap dapat melihat sisi lain bentuk sejarah mereka yang sangat menginspirasi. Mereka dapat memvisualisasikan bentuk dinasti yang begitu lama hingga dapat diterima oleh kita masyarakat abad 21 yang begitu modern. Mereka dapat membuatnya begitu nyata dengan  pernik, kostum, perhiasan dan tokoh-tokoh yang memang ada di zaman itu dengan begitu baik.

The Great Queen Seondeok

Apa yang dapat kita petik dari sedikit penjebaran tersebut adalah apa yang yang harus Indonesia lakukan menanggapi arus Korea yang begitu menakjubkan itu. Tidakkah kita harus belajar banyak dari negeri bermakanan khas kimchi tersebut? Kita sama-sama dijajah, kita sama-sama bangsa yang punya kebudayaan dan sejarah masa lalu yang luar biasa. Namun mengapa kita tidak coba untuk mengangkatnya seperti yang Korea lakukan? Industri drama dan film tidak dipungkiri sebagai salah satu agen sosialisasi yang efektif dalam masyarakat. Persebaran nilai dan budaya akan berkembang cepat berkat soft diplomasi yang terkandung dalam tiap drama, music dan film mereka. Dulu stasiun televise kita pernah menayangkan drama bergenre kolosal yang mengangkat cerita mahabarata dan Ramayana, namun sekarang pijarnya sudah tidak terlihat lagi. Jika kita bisa memaksimalkan cerita yang kita punyai, maka tak menjadi hal yang mustahil drama dan film kitapun bisa diekspor ke negara lain, mendatangkan nilai ekonomi  dan menjadi senjata dalam soft diplomasi yang efektif di tengah abad 21 ini bagi negara kita.

Komentar
  1. esti kinasih mengatakan:

    bener banget! gue sebenernya gak gitu gila korea. cuma salut banget dengan ‘penjajahan’ smooth yang mereka lakukan lewat seni. sebenernya indonesia nggak kalah, kalo soal budaya kita malah punya banyak ragam. kerajaan di indonesia buanyak banget. beberapa malah masih eksis meskipun sifatnya cuma simbol. masalahnya kayaknya ada di mental deh. orang indonesia tuh gampang banget terkagum-kagum sama budaya luar. telenovela, terus indiahe yang masalah apapun diselesaikan dengan joget-joget sama muterin pohon, amerika jangan ditanya, trus jepang, taiwan, sekarang korea. gue malah ngeliat kayaknya berikutnya thailand deh. gue cinta indonesia. makanya gue seneng banget sekarang banyak nongol novel berlatar belakang sejarah jaman kerajaan2. dari prabu siliwangi, gajah mada, dll. tinggal sinematografi aja nih yang masih parah. ribuan episode tapi gak da isinya.

    • lindashin mengatakan:

      bener banget kak, sebenarnya budaya kolosal kita gak kalah sama korea atau negara2 yang lain, cuma pengemasannya aja yang kita gak bisa jaring interest ke pasar. mereka bisa ngemas semua itu dengan begitu adorable ditambah support pemerintah pula..jadi ya gak heran mereka bisa kayak gitu. aku akui kak kalo orang indonesia itu walopun gak mengeneralisasikan suka tiru2 budaya orang lain (termasuk aku) hehe…namun dari Korea ini semoga kita semua dapat ambil positifnya aja dan jangan sampai malah terlalu membanggakan budaya orang lain malah gak respect sama budaya sendiri.

  2. abukobong mengatakan:

    Heheheheeeh its all about korea….niceeee….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s