Can I Hate You? (1)

Posted: September 10, 2012 in my korean notes

Lagi pengen ngarang indah, sok2an bikin cerita nih author..haha… #plakk

Part 1 : aku membencimu…

Aku ingin menceritakan suatu kisah yang berhubungan dengan Korea. Ya, Korea adalah salah satu hal di dunia ini yang sangat aku sukai. Aku berharap kisah ini akan menarik, manis dan berkesan “!”

Malam belum larut. Suara satwa malam yang bersautan terdengar lumayan kencang. Ini adalah malam pertamanya di kota ini. Kota yang sebenarnya tidak ingin dia diami untuk waktu yang lama. Tidak ada pilihan lain, hanya rumah ini yang ia punyai sekarang. Tinggal di kota kecil dekat pantai yang begitu sepi. Tempat yang bahkan dia tidak terlalu yakin ini miliknya selamanya atau bahkan bisa jadi tempat sandarannya paling tidak sampai dia lulus. Dan ini adalah sepenggal buku hariannya….

“Aku sangat suka Korea. Korea adalah inspirasi terbesar dalam hidupku. Akupun sangat gemar menyanyi. Aku sangat mengidolakan genre musik-musik Korea. Mulai dari balada hingga rnb. Aku bahkan sering menonton konser-konser boyband favoritku bersama keluargaku. Ya…itu dulu. Sekarang aku benci menyanyi…aku membencinya sampai aku ingin menghancurkan mereka agar segera enyah dari ingatanku. Semua lagu, foto, film, apapun yang berkaitan dengan Korea telah aku buang. Aku ingin hidup tanpa Korea sejak hari itu. Namun tahukah kalian jika hidup tanpa Korea membuat hatiku begitu sakit? Serasa teriris hati ini ketika aku membakar kepingan dvd boyband idolaku. Hatiku juga tersobek ketika aku menyobek puluhan poster idolaku yang aku koleksi semenjak 7 tahun yang lalu. Aku tidak bisa menemukan cara lain untuk bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik sehingga cara-cara inilah yang kupilih. Aku benci mereka, aku ingin menghancurkan mereka, begitu ingin…tapi tiap kali aku memikirkan untuk membenci mereka, aku seperti dibenci diriku sendiri seketika. Bahkan sepertinya diriku sendiri menolak melakukan hal itu. Tiap aku merusak mereka, yang nyata-nyata rusak adalah perasaanku sendiri. Aku tidak tahu perasaan apa ini, namun yang jelas aku telah menghancurkan mereka semua tanpa sisa”

“Semua bermula setahun yang lalu saat Dong Bang Shin Ki mengadakan konser mini mereka di Indonesia. Aku begitu senang hingga bahkan tiket belum dijualpun aku sudah merengek pada kakakku untuk membelikannya. Saat itu kakak baru semester 2. Dia adalah mahasiswa jurusan bahasa Korea di salah satu universitas bereputasi baik di kotaku. Dia sangat pandai berbahasa Korea, namun dia sebenarnya tidak terlalu tertarik pada industry music korea, lain denganku yang begitu menyukai music Korea. Lain lagi dengan ayah dan ibuku. Mereka berdua sangat sibuk. Mereka bekerja pada media percetakan buku-buku terjemahan. Mereka berdua bertugas menterjemahkan berbagai buku berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Mereka menguasai kurang lebih 3 bahasa asing selain Inggris. Ya, mereka masuk kategori penterjemah khusus negara asia Timur. Mereka menguasai bahasa Korea, Jepang dan China. Mereka sangat jenius, sama seperti kakakku. Hanya aku sendiri yang bahkan berbahasa Inggrispun belum terlalu lancar. Pada hari H konser, mereka bertiga kupaksa untuk ikut menemaniku. Kami berangkat agak terlambat karena ayah dan ibu baru bisa pulang dari kantor pukul 5 sore sedangkan konser dimulai pukul 7. Kakak yang merupakan mahasiswa teladan harus juga mengerjakan tugasnya paling tidak sampai jam 5 sore juga. Aku yang saat itu masih kelas 2 SMA sangat berbeda dari mereka, kegiatanku sangat longgar”

“Mulai pukul 3 aku sudah mempersiapkan diri. Hingga pukul 5 aku berharap-harap cemas menunggui mereka pulang. Asyikk…mereka akhirnya pulang. Aku langsung menyuruh mereka mandi dan bersiap berangkat. 4 tiket dengan harga fantastis telah ada ditangan. Let’s go….”

“Kota ini begitu ramai. Apalagi jam-jam pulang kantor seperti ini. kemacetan begitu mengerikan. Aku terus merengek agar ayah mengemudikannya lebih cepat. Aku hanya tidak ingin terlambat melihat idolaku menyanyikan lagu pembukaan mereka. Kakak terus menepuk-nepuk kepalaku meminta aku supaya bersabar. Wajah kakak kala itu begitu manis, mirip salah satu idolaku di DBSK, yoochun. Ibu dengan tenang duduk di depan. Ayah terus memacu kendaraannya dengan apa yang ku pinta. Di dalam mobil itu aku sadar bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia ini. aku punya 3 malaikat yang selalu menjagaku dengan baik. Ayah yang sabar, ibu yang pintar juga kakak yang begitu baik dan tampan. Apa hal yang tidak aku miliki saat itu?”

Image

“Namun tahukah kalian jika tiap kebahagiaan yang kalian dapat, maka kalian harus sanggup menerima kesedihan dengan jumlah yang sama? Dulu aku tidak pernah tahu ada hal-hal semacam itu, namun aku akhirnya percaya ketika aku mengalaminya saat itu juga… karena begitu dikejar waktu dan aku yang terus merengek, ayah memacu mobilnya begitu kencang hingga ia tidak sadar saat akan menyalip kendaraan di depannya, sebuah truk besar dari arah berlawanan menghampiri dan darr….kecelakaan maut tidak terhindarkan. Ayah dan ibu meninggal seketika. Hanya kakak yang masih sempat dibawa ke rumah sakit. Dan aku? Aku baik-baik saja, hanya sedikit luka memar di lenganku. Seketika mataku terbelalak. Aku bahkan tidak tahu ini mimpi atau bukan. Apakah sekarang dunia sedang mengejekku? Dunia mempermainkanku dengan permainan yang sama sekali tidak lucu ini? atau apa? Apakah ini nyata atau hanya cerita karangan? Apakah ini drama atau sebuah reality show? Katakan cepat…… aku menjerit sekencangnya. Kakak yang terluka parah terus memegangi tanganku…hingga sampailah kami di rumah sakit.”

“ ayah…ibu…apakah mereka meninggal?”tanya kakak dengan suara amat berat. Aku hanya menangis lalu mengangguk. Kakak hanya tersenyum melihatnya. Dia perlahan meraih kepalaku dan mengusapnya beberapa kali. “ ayah, ibu dan kakak sangat menyukai Korea. Walaupun selera kami pada Korea berbeda denganmu…tetapi kita sama…kita benar-benar keluarga yang kompak…” kata kakak terbata. Sambil terus menangis aku terus berkata agar kakak diam saja. Kenapa dia begitu banyak bicara dengan kondisinya yang seperti itu? Dasar kakak… “ kakak kumohon diamlah, jangan bicara lagi…maafkan aku yang telah mengajak kalian hingga semua ini terjadi” rengekku. “ dasar anak bodoh, kenapa menyalahkan dirimu sendiri?” jawabnya sembari terus mengelus-elus kepalaku yang kini berlumuran darah. “kakak hanya ingin mengatakan satu hal sebelum kakak pergi…” katanya makin terbata. “ kakak bicara apa? Diamlah…diamlah…..” perintahku keras, dia terus tersenyum..dasar bandel. “ kalau kamu benar-benar yakin Korea adalah takdirmu, maka tekunilah ia seperti kami. Kami akan terus membantumu dari langit. Kakak tahu kamu benar-benar menyukainya…jadi semangatlah! Fighting!” kata kakak, kemudian dia pergi. Aku diam. Aku bahkan tidak bisa menangis saat itu. 3 orang yang paling berharga dalam hidupku pergi disaat idolaku datang. Ini benar-benar konyol….langit apa? Semangat apa? Korea apa? Bahkan menyebut Koreapun hatiku langsung sakit. Tubuhku jadi gemetar. “

“Mulai saat itu aku tidak pernah lagi menyebut kata itu dalam keseharianku. Korea telah mati bagiku…”

===

Universitas yang kini dia ambil adalah sebuah universitas swasta yang cukup bereputasi baik di kota yang dia diami sekarang. Dia memilih studi Hubungan Internasional untuk sarjananya. Entah kenapa dia memilihnya, dia sendiri juga belum terlalu memahami alasan sebenarnya. Yang ada di benaknya saat itu adalah jika dia bisa menguasai ilmunya maka dia bisa memulai hidupku yang baru setelah ini di luar negeri. Dan tentu saja bukan ke Korea. Dia sangat alergi dengan kata itu. Bahkan hanya mendengar orang lain menyebutkannya saja dia langsung gemetaran. Namun, tahukah kalian bahwa ada seorang siswa di kelasnya yang begitu mengidolakan Korea? Ya, dia bernama Shin Hyun Jae, itu nama Koreanya. Dia memang punya darah Korea, ayahnya adalah orang Korea asli. Ibunya asli Jawa. Dia sangat tampan, dia manis sekali mirip sekali dengan Jung Il Woo, seorang actor Korea yang dulu sangat gadis ini sukai karena ketampanannya. Dia begitu antusias dalam setiap mata kuliah. Dia sangat aktif berkomentar maupun bertanya, dia sangat pintar. Shin mirip sekali dengan kakaknya. Hal yang paling tidak dia sukai adalah sebagian besar komentar maupun pertanyaannya selalu mengarah ke satu hal yakni Korea. Oleh karena itu dosen merekapun otomatis sering sekali menjelaskan masalah Korea kepada kelas tersebut gara-gara anak itu.

Ini membuatnya tidak nyaman hingga akhirnya dia sering memutuskan untuk bolos saja dan bekerja part time daripada mendengarkan penjelasan mereka mengenai Korea. Namun sepertinya langit tidak juga berpihak padanya di tempat kerjanya. Pemilik kedai tempatnya bekerja beserta segenap karyawannya sangat mengidolakan drama-drama Korea sehingga tiap siang sampai sore selalu drama Korea yang diputar di Kedai tersebut. Mereka juga sering membicarakan banyak hal tentang Korea di tempat kerja. Karena alasan itulah dia memutuskan untuk berhenti bekerja di situ. Dia hanya tidak ingin mendengar kata itu terlalu sering sekarang.

Tiap kali berpapasan dengan Shin dia langsung berpaling. Dia tidak suka dengan Shin. Bukan karena Shin melakukan kesalahan atau apa melainkan karena Shin menyukai Korea, itu yang membuatnya jadi malas. Namun walau dia selalu acuh saat Shin menyapa , Shin tetap saja ramah padanya. Membuat perasaanya menjadi agak canggung sebenarnya.

“ CheonSa!” teriaknya keras ke arahnya hingga dia terpaksa berbalik arah, padahal dia kan ingin menghindarinya… ya, namanya adalah CheonSa Nara Kusuma. Dulu dia sangat bangga pada nama depannya karena itu adalah bahasa Korea yang artinya malaikat. Namun sekarang dia sangat benci nama itu. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Nara. Nara yang begitu membenci Korea walau namanya pun nama Korea.

Dia menghampiri Cheonsa dengan senyum angelicnya. Shin sangat menawan sebagai seorang mahasiswa. Hampir segalanya dia punya namun dia menyukai hal yang sangat  Nara benci. Itulah yang membuatnya tidak ingin dekat dengan Shin.

“ hari ini sangat indah ya cheon…” katanya sembari berjalan beriringan dengan Cheonsa. Cheonsa seketika mengarahkan pandagan ke arahnya. “ cheon?…apa kau bilang?” kata Cheonsa dengan nada marah. “ Iya Cheon…namamu kan cheonsa…lalu apa aku harus memanggilnya dengan nama full? Ah…itu sangat melelahkan. Kau boleh hanya memanggilku Shin, jadi aku juga boleh kan memanggilmu dengan Cheon saja?” katanya sambil tertawa. Nara menatapnya tajam. “ Shin, dengarkan aku. Mulai sekarang jangan menyapaku, jangan memanggilku dengan sebutan cheonsa, kalau benar-benar terdesak saja panggil aku dengan nama Nara atau Kusuma sekalian. Yang penting jangan memanggilku dengan panggilan yang aku benci”. Shin kontan terkejut dan mengernyitkan dahi “ kenapa kau membenci namamu sendiri? Itu kan nama yang sangat bagus….kenapa?” tanyanya masih dengan wajah penasarannya. Nara sebenarnya sangat malas meladeninya. Dia sangat cerewet, kebanyakan nanya. “ semua itu tidak ada urusannya denganmu, jadi mari sekarang kita jangan bertegur sapa, pikirkan urusan kita masing-masing..ok!” . nara  pergi sedangkan Shin masih tertegun di situ dengan wajah bingung.

“Kenapa di dunia ini ada orang yang begitu mengidolakan Korea seperti dia? Dia benar-benar telah membuat hidupku tidak tenang. Tiap hari badanku selalu bergetar karena dia. Bukan karena hal lain tetapi karena kata Korealah yang selalu aku dengar. Dia benar-benar bisa membuatku gila”. Dia tidak masuk 3 hari ini, tanpa keterangan. Dia sebenarnya tidak punya alasan khusus untuk tidak masuk, hanya tidak ingin saja bertemu dengan Shin  untuk beberapa hari ini. namun apa yang terjadi? Shin datang kerumahnya dan memberinya sekeranjang buah segar, terlihat dari balik jendela depan. “Sepertinya dia mengira aku sakit sehingga dia menjengukku. Dia benar-benar…..”

“ Cheon. Boleh aku masuk?” katanya sambil mengetuk pintu. “Aku sangat malas bertemu dengannya tapi kenapa dia malah yang ke rumahku?? Ah…dasar…Tuhan tolong bantu aku menyingkirkan anak itu,,,,,,,” pinta Nara.

“ kamu sakit ya Cheon? Sakit apa? Kok 3 hari ini gak masuk? Kenapa tidak minta izin?” tanyannya bertubi-tubi. Dalam hatinya, Nara ingin sekali menjepit mulut Shin yang bawel itu. Memang dia wartawan? Menginterogasinya sedetail itu? Memangnya dia siapa?. “ Shin, tolong pergilah, aku tidak apa-apa. Dan tolong jangan kesini lagi. Aku mohon dengan sangat” katanya memohon. Mendengar hal itu Shin diam. Tidak seperti biasanya yang langsung menjawab ini dan itu, dia diam dan menatap Nara dengan tajam. Nara malah kaget melihat ekspresinya yang seperti itu karena ini sungguh bukan tatapannya yang seperti biasa.

“Cheonsa Nara Kusuma, apakah kau membenciku?” tanyanya setelah diam beberapa saat. Nara sedikit terhenyak mendengarnya namun segera dia jawab “ bukankah sudah jelas? apa selama ini aku terlihat menyukaimu?”. Dia tetap diam dengan mata yang masih tajam. “ apa yang membuatmu benci padaku? Kenapa hanya aku?” tanyaya lagi. “ kenapa kau begitu ingin tahu? Apa ini penting bagimu?” balas Nara. “ ini penting bagiku..” jawabnya. “ mengapa jadi penting? Apa ini urusanmu?” balas Nara agak membentak. “ iya, benar. Ini sangat penting bagiku karena aku…” jawabnya lagi. “ karena apa? Hey Shin. Aku tahu kau primadona di kelas HI bahkan di seluruh universitas. kau tampan, pintar, baik, segalanya kau punyai. Kau punya banyak teman juga idola perempuan yang berebut ingin bersamamu…namun kenapa kau terus saja menguntiti aku seperti ini? kau diam-diam pergi mengikutiku ke tempat kerjaku kan? Kau juga kan yang selalu mempengaruhi dosen agar aku selalu satu kelompok denganmu? Kau juga kan yang selalu memberi sebungkus permen loli di tasku ketika aku keluar kan? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku membencimu…apa ini tidak jelas bagimu hah?” eksplanasi Nara panjang. “ sudah cukup bicaramu?” balas Shin dengan nada yang lembut, mirip dengan kakak Nara. Nara diam dan hanya menatapnya. “ kau benar-benar bodoh. Memang apa yang aku lakukan selama ini tidak jelas? Kau benar-benar payah….masa aku harus mengatakannya sekarang? Hah…kau ini” kata Shin dengan nada sangat santai. “ sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku, cepat katakan lalu pulang! Aku mau kerja setelah ini…”.  “ Ok, aku akan pulang. Tetapi aku baru akan pulang setelah aku mendapatkan jawaban atas satu hal yaitu kenapa kau tidak menyukaiku. Kenapa?”. Nara benar-benar kesal dibuatnya, sepertinya dia memang sudah bisa membuat Nara gila sekarang. Nara benar-benar tidak tahu bagaimana cara agar anak ini mengerti.

“Aku membencimu karena kau sangat menyukai hal yang sangat aku benci!!!” teriak Nara kencang dengan nada sangat sebal. Shin kontan terperanjat. “ hey! Kenapa bicara begitu keras? Kau kira aku tuli?hah…mengagetkanku saja. Ya sudah besok kita lanjutkan lagi…aku pulang…” katanya sambil mengusap-usap dada karena kaget.

“dia membenci aku karena aku menyukai hal yang dia sangat benci? Apa itu?” kata Shin  pelan lalu bersiap menaiki sepeda fixie barunya.

===

Komentar
  1. tragis bener!!!
    ayo lanjut part 2 ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s