Can I Hate You? (3)

Posted: September 11, 2012 in About EXO M & EXO K

Part 3: When Rain Fall to the Dried Heart

“kenapa aku sering sekali melihat dia menangis? Kenapa aku tidak pernah melihat dia tertawa lagi ya?” kata Shin dalam hati. Dia dan beberapa member krusty telah berkumpul di perpustakaan bahasa lantai 3, tempat dimana member krusty mengadakan pertemuan untuk belajar bersama. Hari ini kegiatan akan dimulai pukul 3 sampai dengan pukul 5. Waktu baru menunjukkan 2:45 namun hampir semua member sudah berkumpul. Mereka berjumlah kurang lebih 20 anak dan hampir ¾ diantaranya adalah mahasiswi wanita. Mereka kebanyakan berminat mengikuti club itu karena Shin yang cakep adalah ketuanya. Shin juga sangat pintar dan baik sehingga tidak ada alasan untuk tidak ikut. Dan sebagian besar siswa yang berminat adalah mereka yang ada di jurusan HI. Telah diadakan kurang lebih 5 pertemuan sehingga para member krusty sekarang sudah mampu untuk menulis maupun membaca huruf-huruf Korea. Mereka dilatih sendiri oleh Shin karena memang Shin mempunyai ayah berkewarganegaraan Korea sehingga bahasa Korea merupakan hal yang sangat dikuasai Shin tanpa harus kursus terlebih dahulu.

Image

“Selamat Sore…aku Nara member baru disini…” kata Nara setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.

“Wahh….dia semester 2 kan…cantik sekali…imut sekali…mirip SUlli F(x)…wah..dia akan jadi dongseng kita yang cantik…asyikkk….club kita memang mendambakan member berwajah Korea seperti dia kan leader?” kata Dido, salah satu member laki-laki yang terkenal sangat cerewet. “ diam kau, kau tidak boleh mengganggunya, dia milikku…” kata Shin mengancam dengan suara pelan. “oh Nara, mari silahkan duduk, selamat bergabung di sini…” kata Shin mempersilahkan. Nara segera mengambil tempat duduk. Dia bersebelahan dengan Echa, gadis tomboy yang merupakan kakak kelasnya sendiri. “ selamat sore kak, saya Nara…” sapa Nara. Echa sama sekali tidak menggubris Nara, dia acuh dan terus saja memperhatikan Shin. Echa memang mangikuti club ini karena Shin. Sejak Shin masuk, Echa selalu mengejar-ngejar Shin. Bahkan ketika club itu pertama kali dibentuk, Echa merupakan orang pertama yang bergabung. Dia terang-terangan mengatakan menyukai Shin namun sejak awal pula Shin selalu mengatakan dia tidak menyukainya. Shin mengatakan bahwa dia menyukai orang lain namun belum memberitahu siapa gadis itu pada Echa.

“ Untuk pertemuan ini, karena kita di sini sudah menguasi huruf Korea juga telah dapat membaca dan menulis Hangeul, maka sekarang kita akan mengapikasikannya dalam sebuah lagu. Kemampuan bahasa Korea kalian akan berkembang jika kalian sering mengucapkannya. Karena kita jarang melakukan percakapan langsung, maka mengucapkan atau menyanyikan lagu dengan lirik Korea akan cukup efektiv untuk melancarkan vocal Korea kalian..baiklah, semua tolong menghadap ke layar. Ada 20 lagu di sini. Masing-masing dari kita akan memilih satu lagu diantaranya kemudian kita akan nyanyikan di depan untuk dinilai ketepatan maupun pelafalannya oleh sesama dari kita. Kita yang tidak bernyayi mendapat tugas menganalisis teman kita yang bernyanyi dan memberi analisis kita agar dia mengerti kesalahannya dan bisa memperbaikinya..apa kalian mengerti?” jelas leader Shin lantang. “ ye…algesumnida…” kata semua berbarengan kecuali Nara yang hanya diam dan terus gemetaran. “ apa kau sakit?” tanya Dido, yang duduk tepat didepannya. “ aku tidak apa-apa…” balas Nara lemah. “ hyung, sepertinya Nara tidak enak badan, apakah dia kita antarkan pulang saja? Biar aku yang mengantarnya….” Usul Dido bersemangat. Shin dengan suara keras terang-terangan menolak “ tidak bisa, biar aku saja yang melakukannya…” sontak semua member memandang aneh ke arah Shin. Echalah yang paling marah mendengar kata-kata Shin barusan. Dia heran, siapa sebenarnya Nara hingga Shin mengatakan hal seperti itu. Di sisi lain Nara segera mengklarifikasi “ aku baik-baik saja, aku memang sering gemetaran seperti ini..aku akan mengikuti ini sampai akhir, jadi tenanglah semua, aku baik-baik saja..” terang Nara. “ baiklah, jika Nara berkata begitu…”sahut Dido dengan agak kecewa, Shin terlihat lebih lega (dasar).

Image

“Karena nara belum bisa Hangeul, apa yang sebaiknya kita pelajari hari ini?” kata Shin setelah semua memilih lagu. “ aku yang akan mengajarinya hyung…” kata Dido yang dari tadi sangat bersemangat tiap ada yang berkaitan dengan Nara. “ tidak boleh…..!” teriak Shin lagi. Semua mata kembali menatap Shin dengan heran. Semua bertanya-tanya, sebenarnya ada hubungan apa antara Nara dengan Shin? Echa kelihatan sangat marah dan terus melirik tajam penuh amarah kepada Nara. Narapun sedikit takut melihat ekspresi marah kakak kelasnya itu.

“Nara yang akan aku ajari….” Kata Echa tiba-tiba. Nara kaget, begitu juga semuanya. “ dia akan aku ajari sampai bisa  Hangeul…” tambahnya lagi. Nara menatap Shin sebentar kemudian berani membuka suara walau ia masih gemetaran “ aku sudah bisa melakukannya, benar. Jadi tolong ini dilanjutkan saja, jangan mengkhawatirkanku…” kata Nara diikuti suara ribut member yang lain yang tidak percaya Nara telah menguasainya. “ baiklah kalau begitu, untuk membuktikannya, mari silahkan Nara menulis di papan beberapa kalimat sederhan langsung dengan hangeulnya….silahkan…!” perintah Echa. Nara memang sudah menguasai hal Hangeul, namun yang menjadi masalahnya adalah sekarang ia membenci apapun yang berkaitan dengan Korea termasuk hurufnya sehingga untuk melakukan apa yang Echa perintahkan terasa sangat berat baginya. Ia tidak ingin dipermalukan pada satu sisi namun juga tidak yakin bisa melakukannya, ia takut langsung jatuh pingsan atau apapun hal buruk yang akan terjadi ketika dia nekat melakukannya. Oleh karena itu Nara hanya diam. Echa dan yang lain di sisi lain terus saja membujuk Nara supaya melakukan apa yang Echa suruh tadi. Shin yang melihatnya tidak tinggal diam, ia segera mencairkan keadaan. “ sepertinya sekarang Nara kurang enak badan, jadi hal ini bisa kita lakukan lain kali saja. Karena semua teman sudah memilih lagu masing-masing, maka kita cukupkan saja pertemuan untuk hari ini. sampai jumpa minggu depan. Kamsahamnida…tomanayo (sampai jumpa)…”. Semua memberpun meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Echa, Dido, Shin dan Nara. “ Nara, aku boleh mengantarmu kan? Dimana rumahmu?” pinta Dido. Nara menggeleng” terimakasih, aku akan pulang sendiri…” jawab Nara. “Shin, apa kau mau mengantarkanku pulang? Kau sudah janji kan untuk melakukannya jika kau ada waktu, kenapa tidak hari ini saja?” pinta Echa dengan sedikit merayu. Walaupun dia tomboy, tetapi dia sangat berbeda ketika sudah di dekat Shin, dia menjadi sangat centil dan manja. “ maaf Cha, sepertinya aku tidak bisa, aku ada urusan penting setelah ini. aku harus membuat surat pertanggungjawaban kegiatan kuartal ini kepada fakultas…” jawab Shin meyakinkan. Echa cemberut pada awalnya namun akhirnya pulang juga setelah terlebih dahulu memeluk Shin. Nara yang melihatnya hanya berekspresi datar sedangkan Shin merasa sangat tidak enak pada Nara. Dido pun pergi menyusul Echa, dia sebenarnya juga agak kecewa tapi ya sudahlah…

Image

Saat sampai di gerbang depan, tenyata langit begitu gelap. Sudah tidak ada kendaraan pula. Bagaimana Nara bisa pulang? Apalagi gelap merupakan salah satu hal yang ditakuti oleh Nara. Shin yang melihat ekspresi Nara yang masih gemetaran dan sepertinya ditambah dengan ketakutan perlahan mendekatinya.

“Mau aku antar?” tawar Shin. Nara hanya diam namun ia tidak berani beranjak. “ cepat naiklah…aku tahu kau tidak akan berani pulang…cepat!” bujuk Shin. “Bukankah kau akan mengerjakan tugasmu?” tanya Nara. “ Tugas apa? Aku telah menyelesaikannya kemarin, aku mengatakannya tadi karena aku tidak ingin mengantarkan dia pulang…” jelas Shin. “ ayo cepat, ini hampir malam…apa kau mau berdiri di sini sampai pagi? Kau tidak mau pulang?” bujuk Shin lagi. “kenapa kau berbohong pada dia?” tanya Nara lagi. “ kanapa? Karena aku tidak menyukainya. Kalau aku menyukainya seperti aku menyukaimu maka pasti tanpa disuruhpun aku mau melakukannya…” terang Shin. “ apakah kau benar-benar menyukaiku?” tanya Nara lagi. “ kenapa kau mengatakan hal yang sudah kau tahu jawabannya…cepat naiklah…” bujuk Shin untuk yang kesekian kali. Lama sudah tapi Nara tetap saja diam. Shinpun belum mau pergi. “ baiklah jika ini yang kau inginkan, aku akan pergi…” Shin bersiap mengayun sepedanya namun ketika kayuhan pertama ia sudah lakukan tiba-tiba Nara naik ke sepedanya dan langsung merangkul Shin dengan erat. Sambil menyandarkan wajahnya ke punggung Shin, Shin perlahan mengayuh sepedanya. Shin tersenyum senang “ BERHASIL!”. Nara memeluk dan bersandar pada Shin sambil menangis, dia terus memeluk tubuh Shin agar ia tidak gemetar. Ia menempelkan wajahnya pada Shin agar ia tidak melihat gelap karena ia benci gelap. Shin sengaja mengayuh sepedanya dengan agak pelan. “ akhirnya saat ini datang juga…senangnya…” kata Shin dalam hati.

Image

Setelah tiba di depan rumah Nara malam sudah sangat pekat dan sepertinya akan segera turun hujan. Sepeda fixie yang Shin naiki juga mulai basah karena rupanya gerimis telah jatuh. “ Terimakasih Shin…” kata Nara. “ ah…tidak perlu…aku senang sekali kok,,” jawabnya agak malu. “ aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok…bye!” kata Shin sambil bersiap memacu sepedanya. “ Tunggu!” kata Nara tiba-tiba. Shin terkejut dan berhenti. Nara masuk ke dalam rumahnya. Shinpun menunggu dengan sabar. Shin merasa sangat senang karena hari ini Nara sudah mau mempedulikannya… setelah menunggu agak lama, Nara keluar dengan jas hujan berwarna kuning. Warna yang sangat disukai oleh Nara. “ ini, pakailah…sepertinya hujan akan segera datang…” perintah Nara sembari mengulurkan jas itu. Nara dengan sangat senang menerimanya “ terima kasih Nara..aku akan mengembalikannya saat bertemu di kelas…aku pergi dulu…” balas Shin lalu memakai jas hujan itu dan mengayuhnya. Hujan benar-benar turun, lebat dan penuh petir. Di rumah Nara berharap agar Shin baik-baik saja…

“walaupun aku sakit setelah kehujanan ini aku juga tidak akan menyesal…aku sudah sangat senang hari ini…hah…..yes yes yes….terimakasih……..” kata Shin keras di tengah rinai hujan malam itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s