Can I Hate You (6)

Posted: September 17, 2012 in About EXO M & EXO K

Part 6: Sebuah Kesempatan

Papan pengumuman hari ini dibersihkan. Diganti dengan beberapa pengumuman yang baru. Dan yang paling menggembirakan  bagi Nara adalah studi Ilmu Hubungan Internasional di kampusnya akan bekerjasama dengan Seoul Nasional University Korea. Akan ada 3 orang siswa yang paling berprestasi di 3 angkatan HI sekarang yang akan dikirim ke sana dalam rangka beasiswa sampai lulus. Dari hampir 200 mahasiwa Hi di universitas itu, Nara harus menjadi 3 terbaik. Ia tidak boleh gagal, ini adalah sebuah kesempatan. Shin ternyata juga mendapatkan beasiswa yang sama di universitas itu. Dia mengambil jurusan studi hubungan Internasional juga di sana. Hal ini bak berkat dari langit. Sebuah tali yang diulurkan langit untuk mengangkat tubuh Nara dari jurang yang dalam untuk bisa bertemu Shin kembali. Lebih dari sekedar itu, ia ingin membuktikan pada kakak kelasnya yang arogan itu bahwa dia bisa melakukannya walaupun dia tidak sekaya dan seberuntung dia.

Image

Di rumah, Echa terus saja merengek pada ayahnya untuk bisa diloloskan untuk beasiswa itu. “ ayah…aku mohon…aku benar-benar harus ke sana…aku harus…” rengek Echa tanpa henti. “ kenapa kini kau begitu tertarik ke Korea? Bukankah kau lebih ingin ke Perancis? Ayah telah memilihkan universitas yang baik di Perancis untuk studi lanjutmu..jadi lupakan saja masalah Korea…” jawab ayahnya dengan sembari meminum kopi hangatnya. “ aku tidak ingin ke Paris, ayah…aku ingin ke Korea…aku harus satu kampus dengan orang yang sangat aku sukai di sana…” rengek Echa lagi. Ayah Echa lalu meletakkan cangkirnya ke meja dan menatap wajah anaknya yang hampir menangis itu..” apakah kau benar-benar ingin ke sana?” tanya ayahnya kemudian. Dengan mengangguk, Echa mengatakan ya. “ kalau begitu belajarlah…belajarlah ilmu HI dengan baik kemudian belajarlah bahasa Korea mulai besok…” kata ayahnya.. echa terlihat kecewa mendengarnya. “ ayah…kenapa aku harus susah-susah melakukan itu? Kalau masalah ilmu Hi tentu aku sudah bisa, tapi kenapa aku juga harus belajar bahasanya? Kenapa aku harus melakukan itu? Aku tidak mau! Aku ingin kesana pokoknya,…ayah harus membantuku…” sahut Echa lagi. Ayahnya lama menatap anak semata wayangnya yang keras kepala itu. Dia seperti ingin meluruskan pemikiran anaknya yang keliru itu namun di sisi lain tidak tega pada Echa yang dari tadi selalu hampir menangis. Namun sebagai ayah, apakah ia akan membiarkan anaknya melakukan sesuatu yang salah? Tentu saja ayah harus meluruskan tiap jalan anaknya yang bengkok..maka “ ayah tidak tahu apa motivasimu sebenarnya ke sana. Namun jika itu hanya karena rasa suka pada seseorang dan kamu ingin satu kampus dengannya maka kau keliru anakku…kau harus bisa membedakan urusan belajar dengan hal-hal seperti itu. Ayahpun yakin bahwa laki-laki yang kau sukai itu juga tidak akan senang jika kau ke Korea hanya karena kau menyukainya tanpa niat yang benar untuk belajar…” papar ayahnya bijaksana. “ jadi ayah tidak mau membantuku?” jawab Echa sedikit mengancam. “ ayah akan selalu membantumu…namun kau juga harus mengerti jika semua ini tidak benar. Kau harus memperbaharui tujuanmu terlebih dahulu…temukan motivasi yang benar maka ayah akan membantumu dengan senang hati” balas ayahnya lalu bersiap mengambil cangkir itu dan beranjak. Echa dengan mimic sangat kecewa hanya diam. Sementara ayahnya berjalan memasuki kamar…echa masih termenung di situ dengan sejuta pemikiran. Walau ia adalah anak yang keras kepala namun sebenarnya dia tahu bahwa apa yang diucapkan ayahnya itu tidak ada yang salah. Ia harus punya impian. Ia harus seperti Nara yang punya impian dan ia harus pula mengupayakan agar mimpinya jadi nyata dengan cara-cara yang benar. “ lalu…apa yang harus aku lakukan sekarang?” kata Echa dalam hati.

===

“ Impian…impian…apa itu? Apa impianku? Apa yang sebenarnya yang aku inginkan?” kata Echa dalam hati sambil berjalan menuju kampus. Di jalan, dia melihat rerumputan yang sangat hijau tertata rapi dipinggir jalan. Bunga-bunga dengan warna-warna cerahpun menghiasi tiap sudutnya dengan sangat serasi. Perpaduan warna yang begitu menakjubkan…sangat indah. “ ini kan musim bunga?…wah…indah sekali…” kata Echa lalu memetik satu diantaranya…bunga berwarna merah yang mungil.. “ apakah ini artinya aku harus mencari impianku saat ini juga? Dimana aku harus mencarinya? Apakah aku harus bertanya pada seseorang atau aku sendirilah yang harus menemukan jawabannya sendiri?” kata Echa sembari melihat bunga yang kini ada di tangannya..

Image

Echa meletakkan tasnya dan mengeluarkan selembar kertas serta spidol. Dia kemdian bertanya pada teman yang ada disebelahnya, seorang gadis yang merupakan peringkat 1 di seluruh Hi, dia adalah sahabat Echa. “ sha, apa impianmu?” tanya Echa dengan nada yang tidak seperti biasanya, nada ini sangat terdengar bersahabat. “ hah? Kau menanyakan itu padaku?” kata Sasha agak aneh. Echa mengangguk. “ aku ingin ke Perancis, aku ingin mendalami studi Hubungan Internasionalku di negeri yang indah itu, aku ingin suatu saat bisa melihat menara eifel dan berfoto di hamparan bungan iris di sana…aku ingin menjadi fashionista di sana…aku sangat memimpikan untuk bisa belajar dan bekerja di sana..” beber Sasha bersemangat. “ jadi karena itulah kau belajar setekun ini?” tanya Echa lagi. “ tentu saja, aku harus menjadi mahasiswa yang pintar untuk bisa meraih impianku itu. Aku tidak akan pernah bisa mencapai impianku itu jika aku tidak bekerja keras mulai saat ini…aku tidak ingin kehilangan kesempatan jadi belajar adalah satu-satunya hal yang harus selalu aku lakukan sekarang…” jelas Sasha diikuti anggukan Echa. Echa mencoreti kertas yang tadi dikeluarkan dengan banyak tanda tanya. Ia seperti memikirkan sesuatu. Sasha yang melihat itu sangat penasaran. “ kenapa tiba-tiba kau menanyakan semua ini Cha? Ini bukan gayamu…” tanya Sasha balik. “ apa?” sahut Echa dengan agak kaget. “ iya, kenapa kau menanyakan hal ini padaku? Ada masalah?” jawab Sasha masih penasaran. Agak lama Echa diam tetapi kemdian ia bicara “ aku tidak punya impian sepertimu Sha…bagaimana kau bisa mendapatkan impian itu? Apa kau bisa memberitahuku?” tanya Echa dengan sangat bersungguh-sungguh hingga membuat Sasha bemimik tidak percaya. “ jawabannya mudah, impian adalah hal yang kau sukai makanya ingin kau capai…itulah impian bagiku…” balas Sasha meyakinkan. “ yang aku sukai?” balas Echa masih kurang mengerti. “ iya, pikirkan hal yang kau sukai…” balas Sasha lagi. “ aku menyukai Shin..jadi apakah bisa bersama Shin merupakan suatu impian juga?” tanya Echa. “ tentu saja iya, bersama orang yang kita sukai juga merupaka impian…kalau memang kau benar-benar menyukai Shin, maka buatlah Shin menyukaimu…dan tentu saja dengan cara-cara yang benar dan sportif…” tambah Sasha. “ cara yang benar? Seperti apa?” tanya Echa seperti masih belum terlalu paham. “ jangan meraih suatu impian dengan cara-cara yang kootor, impian adalah suatu hal yang sangat mulia jadi cara untuk mendapatkannyapun harus dengan cara-cara yang baik…kau kan pintar, pasti tahu apa cara yang baik itu…” jawab Sasha. Agak lama Echa diam…beberapa saat kemudian dia girang dan memeluk Sasha seraya mengucapkan terima kasih…sambil berkata “ aku harus pergi…. Sasha yang melihatnya hanya tersenyum.

Image

“Echa tunggu!” teriak Sasha sebelum Echa keluar dari ruangan. Echapun berpaling. “ pikirkan juga orang yang berharga bagimu seperti keluargamu…libatkan mereka dalam impianmu…ok!” kata Sasha menambahkan. Echa mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke luar. Dia turun ke lantai dasar dengan langkah kaki sangat cepat. Dia terlihat sedang mencari sesuatu. Pandangannya mengarah ke segala arah mencari seseorang. Setelah dia menemukan orang yang ia cari ia segera berlari menghampirinya. Orang yang ia cari adalah Nara.

“Nara, tunggu…” perintah Echa. Narapun berhenti dari langkahnya. “ ada apa kak?” tanya Nara. “ aku akan bersaing secara sehat denganmu hari ini…hari ini aku telah menemukan apa impianku..aku akan belajar ilmu HI juga akan belajar bahasa Korea sebaik mungkin untuk beasiswa itu…aku tidak akan menyerah untuk mencapai impianku…aku ingin Shin melihatnya dan berharap dia juga akan menyukaiku…aku pastikan aku akan berusaha sekuat aku mampu jadi mari kita bersaing sebagai teman mulai hari ini…” kata Echa dengan wajah sangat bersahabat. Sangat berbeda dengan seorang Echa yang Nara lihat kemarin. Kemarin Echa adalah monster yang menakutkan tapi sekarang ia sangat bersahabat bak bidadari. “ baik kak..aku setuju..mari kita bersaing dengan cara yang benar mulai hari ini…aku akan berusaha keras juga seperti kakak…” balas Nara dengan wajah ceria juga sangat bersahabat. “ baiklah kak..aku harus ke suatu tempat sekarang…aku permisi dulu..semangat! Fighting!” pemit Nara dengan senyum angelicnya.

Image

“walaupun aku tidak yakin akan bisa menang melawannya aku akan tetap berusaha. Aku akan berusaha sebaik mungkin mulai hari ini. aku tidak yakin Shin akan memilihku tapi inilah satu-satunya cara untuk semakin dekat dengan impianku…aku harus kuat, aku harus melakukan yang terbaik yana aku bisa…dan jika Shin pada akhirnya tidak memilihku maka aku tidak akan menyesal…karena aku akan melakukan semuanya ini bukan hanya untuk Shin tapi untuk ayahku…aku ingin membuatnya bangga…aku ingin menjadi anak baik yang ayah inginkan…….ibu yang ada di langit…tolong bantu aku…bantu aku….” Kata Echa dalam hati seraya menatap langit yang hari ini terlihat sama dengan langit-langit sebelumnya…biru yang sangat indah…

===

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s