Fenomena Bunuh Diri (Suicide) di Korea Selatan (Gambaran dalam Film Jungle Fish)

Posted: April 23, 2013 in my korean notes

Fenomena bunuh diri kerap terjadi di Korea Selatan. Hal ini sudah pasti diketahui oleh para pecinta Korea. Banyak artis Korea yang memutuskan mengakhiri hidup mereka karena tekanan batin yang berat. Mereka tidak punya harapan dan merasa hidup sendiri dan sepi sehingga lama kelamaan mereka lelah dan putus asa. Ditambah Korea Selatan merupakan negara yang masih kental dengan antheisme sehingga ketika ada masalah mereka tidak punya pelarian seperti ketika orang “beragama” menghadapi kesulitan. Orang yang beragama akan memandang kesulitan sebagai suatu cobaan dari Tuhan dan harus dilalui untuk bisa lulus. Sedangkan orang atheis mungkin akan memandang jika dia mati maka penderitaan mereka juga akan berakhir oleh karena itu bunuh diri kerap menjadi alternative terakhir. Di sini saya tidak dalam posisi untuk membenarkan maupun menyalahkan fenomena bunuh diri. Menurut saya semua orang punya pilihan masing-masing dan setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang dia lakukakan sendiri sehingga menurut saya terlalu dini untuk menghakimi orang tersebut tanpa terlebih dulu mengetahui detail masalahnya.

Beberapa hari yang lalu saya melihat film seri Korea dengan judul Jungle Fish 2. Jungle Fish sendiri adalah perumpamaan bahwa ikan akan mati jika berada dalam kondisi yang tidak seharusnya. Begitu juga dengan salah satu anak SMA dalam film tersebut yang mencoba mengungkap hal kruisial yang sebenarnya berat bagi anak seusia dia. Anak ini bisa dibilang sempurna, dia cantik, jenius, bersahabat, dan baik hati. Dia mau bergaul dengan semua teman di sekolahnya dan memperlakukan semua orang dengan baik padahal banyak anak yang cenderung arrogant di sekolah itu. Suatu hari dia menemukan ganjalan yang berkaitan dengan konspirasi keuangan di sekolah “favorit” tempat dia belajar. Money education atau penyogokan terjadi di sekolah yang notabene dihuni murid-murid anak orang kaya tersebut. Hatinya tergugah saat temannya yang miskin terpaksa keluar karena tidak bisa membayar sejumlah uang. Mulai saat itu dia berusaha untuk mengungkap kasus tersebut. Dia telah berusaha semaksimalnya, bertaruh dengan bahaya dan intimidasi namun upayanya belum bisa berbuah manis karena kembali, dia adalah ikan yang mencoba menaklukkan hutan. Dia tidak terlalu kuat untuk itu. Akhirnya dia mencapai titik nadir dan kemudian memutuskan bunuh diri. Gadis ini memutuskan terjun dari gedung paling atas bangunan setelah memberikan petunjuk-petunjuk yang selama ini telah dia dapatkan dari usahanya itu pada teman-teman akrabnya.

Film ini sebenarnya memberi gambaran pada kita bahwa kehidupan siswa di Korea Selatan sangatlah berat. Mereka mendapati banyak tekanan pada masa-masa yang seharusnya menjadi “masa yang paling indah itu”. Tekanan bisa datang dari orangtua mereka sendiri yang begitu ingin anaknya masuk pergutuan tinggi favorite di Korea Selatan sehingga memaksa anak mereka belajar tanpa henti dan mengesampingkan hal-hal yang mereka anggap bisa mengganggu belajar. Hal ini terlihat dalam Film Jungle Fish 1 dimana orangtua murid rela membeli soal ulangan lebih awal agar anaknya mendapat nilai baik. Tidak cukup itu, mereka juga harus les dan melakukan belajar tambahan sampai larut malam setiap hari. Dalam jungle Fish 2 digambarkan anak yang seperti itu sampai harus meminum pil tertentu agar dia bisa bertahan dengan kondisi itu setiap hari. Hal ini mebuat opsi bunuh diri sangat mungkin dilakukan karena mereka sudah terlalu lelah.

Masalah lain adalah masalah keluarga yang miskin sehingga mereka kerap didiskriminasi di sekolah. Selain itu orangtua yang terlalu sibuk sehingga anaknya terjebak dalam pergaulan bebas hingga hamil. Ditambah fenomena anak SMA yang suka fighting alias berkelahi di Korea Selatan yang menyebabkan mereka sering terlibat konflik dengan guru yang notabene tegas sehingga banyak dari mereka yang memutuskan berhenti sekolah dan menjadi brandalan. Dan tentu saja masalah yang sangat sensitive yakni masalah cinta. Orang Korea Selatan  menurut saya sangat sensitive mengenai cinta. Mereka cenderung setia dalam menjalin suatu hubungan sehingga jika ada pihak yang tersakiti eksesnya akan besar dan bisa mengarah ke arah bunuh diri karena cinta dianggap telah berakhir dan tidak bisa berpaling pada orang lain karena kesetiannya tadi. Krisis kepercayaan dalam hubungan percintaan juga bisa menjadi factor pendorong tindakan ekstrim seperti bunuh diri.

Saya mencoba memandang fenomena bunuh diri sebagai suatu hal yang tidak sesimple yang dibayangkan orang-orang. Mungkin orang akan langsung menghakimi bunuh diri adalah jelek dan sebagainya tanpa menilik apa penyebabnya secara detail dan seksama. Setiap orang mempunyai keterbatasan dalam bertahan terhadap tekanan. Kadar masing-masing orang berbeda bergantung pada banyak aspek, seperti lingkungan, agama, profesi, keluarga dan sebagainya. Manusia tidaklah sempurna sehingga kadang kala mereka terjebak dalam situasi yang sulit dan tidak bisa diselesaikan menurut versi mereka. Manusia menurut saya bukanlah pribadi yang selalu “sempurna” dan “normative”. Ada dari mereka yang ketika terjadi masalah langsung bisa mencari solusi cerdas namun ada dari mereka yang kadang tidak bisa berfikir dengan kepala dingin. Ditambah batas sabar manusia pasti ada, kadang mereka sudah menganggap mereka sudah merasa terlalu banyak bersabar namun hasilnya masih sama saja sehingga mereka menjadi putus harapan. Keputusan bunuh diri  memang cenderung mengarah pada hal “negative dan salah”, itu tidak bisa dipungkiri lagi. Namun saya pribadi menilainya dari kacamata “seberapa besar penderitaan mereka”. Saya mencoba mengempati sikap mereka tersebut. Jika saya ada dalam posisi mereka, jika saya punya lingkungan, keluarga, agama maupun penderitaan seperti mereka apakah saya mampu bertahan dan selalu bisa berfikir dengan tenang dan rasional saat terjadi masalah?.

Seseorang yang selama hidup jarang mengalami masa-masa penderitaan, tekanan, kesendirian & kesepian cenderung akan kurang empati pada fenomena bunuh diri. Saya dalam tulisan ini dalam posisi yang mencoba mengempati mereka yang memutuskan jalan itu. Ya, itu adalah jalan mereka dan harus dijadikan pelajaran. Yang terpenting bagi kita yang masih hidup adalah mamberikan empati yang lebih pada penderitaan orang di sekitar kita, apalagi orang-orang terdekat yang kita cintai. Dan jika kita merasa sendiri dan sepi hingga merasa ingin bunuh diri saja maka cobalah cari kesibukan yang bisa melupakan kita pada pikiran-pikiran seperti itu. Pikirkan sebuah tujuan hidup dan teruslah berjalan pada jalan yang kita pilih untuk menujunya, dengan begitu kita mudah-mudahan bisa terus bersabar dan berusaha keras mencapainya hingga kita kelak akan mati dengan sendirinya, tanpa harus dengan bunuh diri.

Komentar
  1. anggiFishie mengatakan:

    Aku agak tertohok ngebacanya…
    Ngena banget sumpahh…

    Aku yg slama ini brpikir klo bunuh diri itu prbuatan yg sangat sangat negative..
    Aku sih brpikirnya ”duhh..ngapain sihh bunuh diri. Kayak gak punya pegangan aja. Selesain dgan pkiran dgin aja apa susahnya sih”
    Tpi trnyata disini kamu bener..
    Orang punya batas masing2 dan ga sgampang itu nyelesain masalah.
    Orang korea disana banyak yg atheis shingga kmampuan brpikirnya ga panjang kyk org yg bragama.

    I very like this..😀
    Gomawo..

    • lindashin mengatakan:

      Iya chingu, disini penekanan saya adl pada sikap meng-empati penderitaan orang lain. Sangat dini menilai seseorang tanpa terlebih dulu meneliti seberapa besar masalah dan penderitaannya.. semoga dengan ini kita menjadi orang yang lebih bijaksana dalam menilai sesuatu, termasuk fenomena bunuh diri.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s