Analisis Feminisme dalam film “My Wife is A Gangster”

Posted: April 24, 2013 in my korean notes

Saya menulis ini 3 hari setelah Hari Kartini. Hari Kartini jatuh pada 21 April. Hari Kartini diperingati di Indonesia sebagai hari yang penting sebagi tonggak emansipasi wanita di Indonesia. Oleh karena itu saya tertarik membahas suatu film dalam kacamata feminism yang identik dengan perempuan.

Sudahkah kalian para pecinta Korea menonton film My Wife is a Gangster? Bagi kalian yang belum nonton saya sarankan menontonnya karena film ini bagus. Film ini punya dua sekuel yakni My Wife is a Gangster 2 dan 3. Film yang pertama dirilis pada 2001, kemudian berturut-turut pada 2003 dan 2006. Film yang ke-3 melibatkan artis Shu Qi, aktris Taiwan. Film yang pertama dan kedua dibintangi aktris Shin Eun Kyung dari Korea Selatan. Film ini menurut saya dapat memberi gambaran pada kita bahwa industry perfilman di Korea Selatan terbukti mampu mengangkat tema-tema yang baru, tema yang segar dan dapat menarik banyak kalangan. Walaupun saya kurang tahu berapa banyak penjualan film ini namun dari dibuatnya 2 sekuel dari film ini saja cukup bisa membuktikan bahwa animo masyarakat luas terhadap film ini begitu besar hingga dibuat 2 versi lainnya.

my-wife-is-a-gangster-movie

Film ini pada intinya menceritakan wanita tidak bisa dianggap remeh. Wanita juga bisa melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh pria. Dalam ini peran wanita adalah sebagai ketua gangster. Dalam film ke-3 wanita digambarkan sebagai sosok yang sangat ahli dalam hal bela diri dan bahkan bisa mengalahkan pria. Wanita yang secara umum dianalogikan sebagai makhluk yang lemah lembut dalam film ini digambarkan punya sisi maskulinitas yang kental. Mereka bukannya tidak punya sisi feminine sama sekali namun memang maskulinitas mereka kuat.

Feminisme sendiri adalah salah satu teori dalam ilmu Hubungan Internasional. Feminisme menekankan bahwa sifat lemah lembut, anti perang maupun perdamaian adalah identik dengan wanita. Argumennya adalah perang bisa terjadi karena wanita tidak memiliki suara di pemerintahan negara atau suara mereka kecil sehingga actor pemerintah yang berwenang membuat kebijakan (mayoritas kaum lelaki) akan cenderung melakukan kebijakan-kebijakan yang maskulin. Kebijakan maskulin seperti keputusan perang tadi. Coba jika wanita memegang kendali negara, tentu saja kebijakan yang dibuat akan lebih feminine. Wanita tidak mungkin akan memulai suatu perang dengan negara lain karena pasti dia melihat ekses buruk yang akan mereka hadapi sendiri. Wanita dan anak-anaklah yang selama ini manjadi korban paling menderita dari perang. Bahkan sekarang perang yang “katanya perang militer” justru menjadi perang sipil karena korban paling banyak justru berasal dari kalangan sipil. Wanita kehilangan suami-suami mereka akibat perang sehingga kehidupan mereka menjadi tidak stabil ditambah mereka yang punya anak. Anak-anak yang orangtuanya menjadi korban perang juga akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Dari hal ini jelas bahwa perang sangat merugikan kaum wanita. Maka dalam feminism tidak bergantung apakah dia laki-laki atau perempuan, jika dia punya kebijakan perdamaian dan anti perang (pasifisme) maka dia berarti dapat digolongkan berpaham feminism.

My-Wife-Is-a-Gangster-2-2003-K-Movie

Feminisme sendiri mempunyai tiga golongan yakni feminism liberal, radikal dan post-modern. Feminisme liberal berarti wanita sebenarnya mampu melakukan hal-hal yang sifatnya maskulin. Wanita sudah mempunyai basic berupa pendidikan dan ketrampilan yang sama dengan kaum lelaki sehingga mereka tentu saja “jika mau” dapat saja melakukan pekerjaan lelaki. Mereka perlu melakukan ini agar mereka tidak terus dilabel berada di bawah (sub ordinate) pria. Feminisme golongan inilah yang coba digambarkan dalam film ini. Wanita digambarkan bukan hanya bisa masak, mencuci baju atau membersihkan rumah (menjadi ibu rumah tangga) yang baik dan lemah lembut tanpa punya keahlian bela diri melawan penindasan. Wanita disini digambarkan punya jiwa kepemimpinan yang kuat bahkan lelakipun banyak yang menjadi anak buahnya. Sosok ketua gangster di sini sangat disegani karena punya skill beladiri dan kharisma luar biasa. Dia di film yang kedua digambarkan sebagai wanita dengan kemampuan bela diri istimewa yang ketika melihat perampok yang menganiaya wanita hamil hatinya menjadi tergerak dan melawan habis kawanan perampok itu hingga akhirnya dia diberi penghargaan oleh pemerintah setempat di daerahnya. Wanita dalam film ke tiga digambarkan sebagai sosok wanita yang sangat anggun dan cantik namun punya kemampuan bela diri luar biasa sehingga mematikan pandangan bahwa anggun pasti lemah, namun sekarang paradigm bisa diubah menjadi anggun tapi kuat. Disinilah keistimewaan wanita sebenarnya, tanpa harus punya fisik yang sama seperti lelaki, mereka tetap bisa melakukan apa yang lelaki bisa dan belum tentu lelaki bisa melakukan apa yang wanita bisa. Feminisme liberal dalam film ini digambarkan bahwa wanita bebas melakukan apapun karena dasarnya mereka punya cukup kemampuan.

My_Wife_Is_a_Gangster_3

Aliran yang kedua, yakni feminism radikal sama seperti namanya yakni menekankan pada aspek keradikalitasnnya. Radikal berarti sampai ke akar-akarnya. Jika feminism liberal dalam cakupan dia (wanita) masih punya jiwa feminine namun punya skill/kemampuan maskulin, dalam feminism radikal para penganutnya menyatakan bahwa tidak cukup disitu namun kedudukan wanita harus berada di atas pria dalam segala hal. Hal ini tidak sama dengan feminism liberal yang hanya menekankan persamaan derajat. Lain lagi dengan feminism dalam golongan post-modern. Feminisme ini menekankan aspek penelaahan lebih jauh mengenai aspek-aspek diluar individu itu sendiri. Feminisme bukan hanya masalah karakter/sikap melainkan perlu dilakukan kajian dulu tentang budaya tempat individu itu berada seperti apa, lingkungan tempat tinggalnya seperti apa dan sebagainya.

Akhirnya dari Film My Wife is A Gangster dapat kita ketahui bahwa film ini dapat dianalisis dari kacamata Feminisme golongan Liberal. Wanita bisa kok melakukan pekerjaan maskulin dengan kemampuannya tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. Contohnya sekarang banyak tentara Amerika yang bergenre wanita. Di tengah perekonomian global yang makin majupun di China sedang ngetrend bodyguard wanita. Sekali lagi wanita adalah makhluk yang istimewa, maka mari para wanita Indonesia kita berkarya sebaik mungkin dan hidup sebaik mungkin karena kita adalah agen-agen kunci dalam mewujudkan perdamaian di dunia !

Maju Terus Wanita Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s