Battlefiled Heroes : Aliansi Tang dan Silla melawan Goguryeo

Posted: April 29, 2013 in my korean notes

Hari ini (130427) saya nonton film Korea tahun 2011 yang judulnya “Battlefield Heroes”. Film ini dibintangi aktor-aktor yang notabene pernah main di drama saeguk (drama Kolosal Korea) seperti Great Queen Seondok. Lee Kwang Soo (member runningman) juga main di sini. Film ini adalah film perang zaman Dinasti Silla. Diceritakan bahwa saat itu Semenanjung Korea terbagi dalam 3 Kerajaan besar yaitu Silla, Baekje dan Goguryeo. Silla beraliansi dengan Dinasti Tang dari Cina dalam perang melawan Goguryeo. Dalam film ini mereka (Goguryeo) sudah mengenal meriam tradisional. Mereka menggunakan batu sebagai pengganti peledak dan menggunakan pengungkit untuk melontarkannya. Saya cukup surprise melihat cara kerja alat ini. Para musuh tentu akan sangat kesakitan karena terkena lemparan batu-batu besar dari atas. Metode perang yang ke dua adalah mereka mengganti batu tadi dengan madu yang dikemas bulat menyerupai batu kecil kemudian dilontarkan ke lawan. Lawan semula mengira bahwa itu hanya cairan biasa dan mereka malah merasa bingung namun beberapa saat kemudian pasukan Goguryeo membuka keranjang yang ternyata isinya adalah lebah penyengat. Otomatis lebah tadi akan menghampiri madu yang dilempar tadi dan menggigit tubuh-tubuh lawan yang terkena madu tersebut. Lawan akan kelimpungan dan barisan menjadi kacau akhirnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa pada masa itu (668) mereka sudah punya senjata sendiri walaupun masih sangat tradisional. Dan menurut saya ini merupakan weapon Asian style atau Korean style..haha.

fullsizephoto147789Film ini sepertinya telah dimodifikasi dan tidak menggambarkan perang yang sebenarnya menurut sejarah walaupun mungkin ada poin-poin yang sama. Dari film ini banyak hal yang bisa diambil antara lain “dalam situasi perang apapun boleh dilakukan” termasuk membatalkan kesepakatan, aliansi dan sebagainya. Situasi perang hanya masalah “siapa yang menang maka dialah yang berkuasa” sehingga diperlukan strategy untuk bisa menang. Diceritakan bahwa kesepakatan awal adalah Silla membantu Tang dalam melawan Goguryeo dengan imbalan Silla mendapat wilayah tertentu. Namun sebenarnya Silla tidak secara bulat mematuhi aliansi tersebut. Silla yang dituntut Tang untuk mengirimkan sejumlah pasukan nyatanya tidak mengirim jumlah pasukan yang diinginkan apalagi saat itu persediaan makanan Tang menipis karena dibakar Goguryeo.

Perang itu sendiri diceritakan adalah Perang ke-dua antara Tang dan Goguryro dimana pada Perang pertama Goguryeo yang menang. Perang itu sendiri terjadi pada tahun 668 Masehi. Dari film ini kita dapat melihat adanya krisis kepercayaan dalam sebuah aliansi. Hal ini terlihat pada konsep awal Silla yakni menyerang Goguryeo namun ditengah medan pertempuran mereka diperintahkan menyerang aliansi mereka sendiri, Tang. Akhirnya pasukan malah menjadi bingung. Salah satu komandan dari Goguryeo sejak awal sebenarnya ingin menegosiasikan ini dengan rival mereka daripada mengambil jalan perang namun komandan yang lain tidak sependapat dan akhirnya dia dibuang dan mendapat suaka dari Tang. Dia merasa punya proud karena dalam perang sebelumnya Goguryeo bisa menaklukan Tang. Mungkin karena Tang merasa kewalahan jika menyerang Goguryeo sendiri makanya dia minta beraliansi dengan Silla. Komandan ini selanjutnya mengajukan kesepakatan dengan Tang yakni jika dia dapat meyakinkan Goguryeo untuk membuka gerbang mereka maka Tang harus memberi sejumlah wilayah ke mereka. Hal ini dilakukan karena dirasa Goguryeo tidak akan menang melawan Tang dan Silla, jadi daripada habis seluruhnya lebih baik tetap mempunyai wilayah walaupun sedikit. Namun kenyataan menjadi lain karena Goguryeo menderita kekalahan di perang tersebut, komandan itupun gugur. Saya melihat bahwa sebenarnya dari tiga pihak baik Silla, Goguryeo dan Tang masing-masing ingin menang dan mengalahkan pihak lain. Logikanya jika Tang menang dengan bantuan Silla maka pada akhirnya dia kemudian akan balik menyerang Silla. Namun nampaknya Silla cukup cerdik dalam hal ini. Dia sejak awal tidak mau mengirim pasukan dalam jumlah besar dan setelah tahu Tang kehilangan banyak pasukan, Raja Silla baru datang dengan memperlihatkan bahwa Silla-lah yang akan menang pada akhirnya karena masih punya lebih banyak pasukan dari Tang. Akhirnya tanpa harus berperang lagi Silla-lah yang menang. Dari sini kita bisa belajar bahwa strategi dalam perang mutlak diperlukan demi meraih kemenangan. Situasi perang yang kacau memungkinkan pihak-pihak yang berperang untuk bisa menjalankan strategi terbaik bahkan jika itu harus “berbohong” tentang jumlah pasukan dsb. Perang adalah sesuatu yang lebih berorientasi hasil (menang) daripada proses. Apapun proses yang dilalui boleh-boleh saja asalkan menang. Ini yang saya kira terjadi pada waktu-waktu itu. Namun sekarang semua lain karena sekarang dunia internasional telah menyepakati hukum-hukum perang yang dapat mengatur jalannya perang dengan lebih fair.

Diakhir film ini diceritakan Silla menang. Ada sebuah kata-kata dari komandan Silla yakni “The Best way to win a war is by not fighting it” dalam artian bahwa cara terbaik untuk menang dalam perang adalah tidak berperang itu sendiri karena perang hanya akan membawa kerugian bagi kedua belah pihak dan mungkin mereka akan lebih sejahtera ketika mereka tidak      ikut perang. Karena dalam perang kita tidak pernah tahu apakah kita akan menang atau kalah, pulang dengan selamat atau tidak dan apakah usaha kita setara dengan hasil yang akan kita dapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s