Arsip untuk Mei 2, 2017


BANG! TAN! BTS!

Source: Story “The Ones Who Walk Away From Omelas” by Ursula Le Guin, https://www.theguardian.com/artanddesign/2010/jan/17/christian-boltanski-personnnes-paris-review, http://www.domusweb.it/en/art/2010/02/01/monumenta-2010-christian-boltanski.html, https://aajpress.wordpress.com/2012/02/29/christian-boltanski-storage-memory/, http://www.nytimes.com/2010/05/10/arts/design/10boltanski.html, http://askakorean.blogspot.co.id/2012/03/suicide-in-korea-series-v-shoes-off.html

Wah..baru bisa update lagi. Mianhaeyo chingudeul, saya jarang update sekarang, huhu. Kalo kemaren kita udah bahas hubungan antara “Spring day” dengan “Snowpiercer”, sekarang kita bahas hubungan antara “spring day” dengan hal yang lain yakni “omelas”, “personnes” dan “sepatu”. Bener2 ya ini, “Spring day” itu elemen pembentuknya banyak, jadi banyak juga hal yang bisa dibahas darinya. Ga heran juga MV itu bisa ditonton oleh sangat banyak orang, karena memang ga satu dua hal aja yang menarik yang disajikan di situ, bermacam2 hal ada dan menarik. Interpretasinyapun bisa macem2, tergantung sudut mana melihatnya. Secara teori juga seperti itu chingu. Karya yang bagus itu adalah karya yang menimbulkan interpretasi. Ada proses yang menarik, yang asik, yang menggelitik kita untuk bisa memahaminya dengan segenap pengetahuan yang kita punya. Ya kayak MV “Spring day” ini. Jinjja daebak, gue kadang speechless juga ngeliat MV ini. Ok chingu, kita masuk ke bahasa yang gue bilang tadi, langsung aja:

  • Selain “snowpiercer”, hal lain yang menarik dari MV ini adalah tentang art “personnes”. “Personnes” adalah sebuah karya seni dari seorang Perancis yang bernama Christian Boltanski. Karya ini dipublikasikan pada tahun 2010. Karya ini dipertunjukkan di Paris, di sebuah tempat bernama Grand Palais. Anak2 BTS yang nangkring di gunungan baju2 bekas itu bisa dibilang terinspirasi dari karya seniman itu chingu. Lalu, apa yang menarik dari karya ini? Sebelumnya, perlu diketahui bahwa karya dari Boltanski ini dilakukan di tempat yang cukup luas. Tempat dimana baju2 bekas diletakkan di petak2 yang dibuat di situ. Pemandangan yang dihasilkan seperti sebuah area pemakaman. Ya, kelompok2 baju yang diletakkan perpetak2 itu mencerminkan sebuah pemakanan. Apa kesan ketika melihatnya? Tempat itu memang terlihat ramai, penuh, penuh dengan pakaian2, tapi..tak ada satupun manusia yang hidup diantara baju2 itu. Hanya baju yang tergeletak dengan bermacam2 warna, ukuran dan jenis. Baju yang tinggal baju, lepas dari pemilik raganya. Baju yang sangat banyak, berwarna, bermacam ukuran, bermacam jenis (pria, wanita, anak2) namun tak punya pemilik lagi. Suasana yang ramai namun sepi. Suasana yang berwarna namun suram. Inilah makna karya “Personess” itu sendiri chingu. Dalam sebuah artikel dari media masa Guardian, ditulis bahwa “karya yang disebut Personess ini artinya adalah “people/orang”. Meskipun namanya “orang”, namun juga berarti “tidak ada orang/no one” *suasana memang ramai, bajunya banyak, ramai berwarna warni, namun sebenarnya sepi, suram. Karya yang namanya “people” tapi malah sebenarnya “no one”. Karya yang artinya “orang” namun bisa juga berarti “tidak ada orang”. Seni memang begini, kadang susah kita melogikanya. Gue rasa tergantung kita menginterpretasikannya gimana chingu, bebas mau dimaknai bagaimana. Cuman, gue rasa perasaan seperti ini kayak “pernah ga kalian ngerasa kesepian padahal kalian sedang berada dalam keramaian?” atau “pernahkah kalian merasa apa yang ada di sekeliling kalian begitu indah dan berwarna warni, namun hati kalian justru suram karena sedih?” Suasana yang ramai dan warna warni yang indah keduanya benar. Namun, hati kalian yang sepi dan suram itupun benar. Dalam Personnes, interpretasi pribadi gue adalah tentang kesepian ditengah keramaian chingu. Sepertinya banyak orang, namun ternyata tidak ada orang. Mengingatkan kita semua pada pemakaman. Terlihat ramai, namun tidak ada yang bernyawa di sana, tidak ada satupun yang hidup di sana. Yang tinggal hanyalah kenangan. Raga mereka dalam karya ini dipersonifikasikan dengan baju bekas. Baju yang dulu dipakai si raga, namun ketika raganya pergi, si baju tinggal sendiri. Tergeletak tak beraturan, terlihat ramai, mungkin yang hiduppun masih bisa mengenang si pemakainya lewat baju2 itu, namun faktanya tak ada kehidupan di situ. Hanya baju, si pemiliknya sudah pergi selama2nya*
  • Bukan hanya petak2 baju yang mencerminkan pemakaman. Dalam karya itu, ada juga gunungan baju dimana ada semacam claw/mesin pencakar yang kadang naik turun menaik dan turunkan baju di situ chingu. Beberapa bajunya berhasil diambil, beberapa jatuh lagi *interpretasi gue adalah keadaan itu menggambarkan jiwa2 manusia yang memang tertakdir untuk mati, cuman hanya menunggu giliran saja*. Untuk karya ini, Boltanski menggunakan 30 ton baju yang pernah digunakan oleh pemiliknya. Karya ini juga dilengkapi dengan suara berupa detakan jantung manusia yang direkam. Jadi ketika hadir di pameran ini, yang bisa dinikmati pengunjungnya adalah gunungan baju yang dilengkapi mesin pencakar di atasnya, petak2 baju seperti area pemakaman dan juga background suara detak jantung manusia. Bisa dibayangkan sendiri, gimana kira2 perasaan kalian misal menontonnya langsung. Meskipun agak “ngeri”, menurut gue karya seperti ini justru menarik chingu. Karena kita pasti akan bisa memikirkan banyak hal ketika mengunjunginya. Memikirkan bahwa pasti kita suatu saat akan mati, tinggal menunggu giliran saja. Barang (baju atau apapun) yang biasa kita pakai hanya akan tergeletak jika kita sudah tiada nanti. Mungkin barang2 itu banyak jumlahnya, menggunung, tapi sudah tidak bermanfaat lagi bagi kita. Gue muslim dan gue rasa baik chingu melihat hal2 seperti ini. Karena Nabi Muhammad juga penah bersabda bahwa “orang yang paling pintar adalah orang yang ingat mati”. Karena apapun, siapapun kita, pasti kita akan mati. Sehingga hal tercerdas bagi kita sebagai manusia adalah memikirkan nasib kita setelah mati. Dengan menjadi orang beriman pada Tuhan, menjadi orang baik, bemanfaat bagi orang lain, semoga nasib kita setelah mati nanti adalah baik juga. Kita ditempatkan di tempat yang damai dan indah di sisiNya. Orang cerdas bukan hanya yang IQnya tinggi, skillnya mumpuni, namun orang yang sadar bahwa manusia ini lemah, kematian pasti akan datang padanya, sehingga mempersiapkan bekal terbaik untuk kematiannya. Semua barang, baju, apapun yang kita miliki pada akhirnya tidak bisa kita miliki dan pakai selamanya. Sebagus apapun baju itu, semahal apapun baju itu, semuanya hanya akan tergeletak dan bahkan bisa jadi dibuang oleh yang hidup karena sudah tidak berguna lagi. Hal lain yang gue dapatkan dari karya ini adalah manusia tidak boleh sombong chingu. Tidak pantas sama sekali kita menyombongkan apapun yang kita pakai, karena pada akhirnya ia hanya akan tergeletak setelah raganya pergi. Termasuk sombong terhadap raga kita, karena pada akhirnya raga kita hanya akan jadi makanan cacing di tanah. Secantik dan setampan apapun manusia, semuanya hanya akan jadi tanah. Yang tinggal hanya kenangan bagi yang hidup. Sehingga, buatlah kenangan baik dalam hidup ini, karena hanya itulah yang akan tersisa. Hanya amal baik dan iman yang bisa kita bahwa sampai kapanpun bahkan sampai kita mati nanti. Gue rasa karya ini mirip2 dengan “ziarah kubur” chingu. Ziarah kuburpun baik, karena itu bisa menjadikan kita ingat mati. Bahwa suatu saat kita juga akan tergeletak di tanah sama seperti mereka. Maka, dengan ingat itu semoga kita terus mencoba memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya*
  • “kamu dapat memegang pakaian2 itu, namun kamu tidak dapat mempertahankan satu orangpun”, kata Boltanski dalam NewYork Times. Jelas, orang yang sudah mati tidak bisa kita pertahankan. Dia yang sudah mati berarti memang pergi selama2nya dari dunia ini. Kita masih bisa memegang pakaian2nya memang, namun sama sekali tak punya kuasa untuk mempertahankannya untuk terus hidup bersama kita. Hanya kenangan yang tertinggal. Karya yang juga disebut dengan “No Man’s Land” ini punya tujuan untuk menginspirasi pengunjungnya untuk menanyakan tentang hidup dan mati chingu. Berat memang, namun inilah fakta. Kita awalnya mati, awalnya kita kan ga ada, lalu kita hidup dari rahim ibu kita, sekarang ini kita hidup, namun suatu saat kita bakalan mati. Lalu setelah mati? Jawabannya adalah kita akan hidup lagi. Hidup dan mati itu memang hal tak terbantahkan yang menjadi pertanyaan abadi bagi manusia. Gue rasa wajar kalo BTS pake karya kayak gini chingu, karena RapMonpun orang yang suka mempertanyaan tentang hidup dan mati. Mixtapenya yang judulnya “drifing”, “life” misalnya, dia menanyakan hidup dan mati di sana. Di “life” dia bilang “kita lahir untuk hidup atau lahir untuk mati?” dan “Apakah kita ini hidup untuk mati atau kita mati untuk hidup?” *Ribet memang, cuman diapun menanyakan hal2 seperti itu dan wajar bagi gue akhirnya jika BTS memilih karya “Personess” ini. Satu hal chingu, berarti BTS ini memang grup yang pikirannya dalem. Mereka mencari karyapun yang maknanya dalem. Makna yang gue rasa bisa menjadikan A.R.M.Y lebih dewasa dalam menanggapi hidup ini. Dengan karya ini, gue rasa secara ga langsung BTS membuat kita untuk lebih berfikir juga tentang hal2 penting dalam kehidupan yakni hidup itu sendiri dan juga mati. Bukan untuk menakuti, tapi karena kita memang memerlukannya untuk diri kita sendiri chingu. RapMonpun menanyakan hal itu di lagu2nya, berarti itu juga menjadi concern dia. “Personnes” yang coba divisualkan BTS dalam “spring day” bagi gue ga hanya seni chingu, tapi lebih dari itu. Sebuah pembelajaran bagi gue pribadi. Semoga kalianpun bisa menjadikan ini sebuah pengetahuan sekaligus pembelajaran ya ^^*
  • Hal lain yang menarik di MV ini adalah tentang cerita “Omelas” chingu. Mungkin sudah banyak dari kalian yang paham tentang cerpen Omelas ini. Judul lengkap cerpen ini adalah “The Ones Who Walk Away From Omelas” karya Ursula Le Guin. Secara garis besar, cerpen ini menceritakan ada suatu kota yang keren banget, indah, bahagia, maju, yang baik2 lah, terserah kalian mau membayangkannya gimana, yang penting ini kota impian ala2 negeri dongeng yang perfect versi tiap pembacanya. Nah cuman, di bawah (basement) suatu gedung yang keren di kota ini, tinggallah anak yang menderita banget. Dia tinggal di ruangan kecil ukuran 3×2 m yang kotor, tertutup, ga ada jendela, cahaya dikit aja yang bisa masuk lewat lubang kecil, sendirian, umurnya mau 10 tahun tapi kayak anak 6 tahun karena kurang gizi (malnutrisi/gizi buruk lah), keliatan ketakutan dan juga terlantar. Keadaan yang jauh banget dari keindahan kota Omelas. Keadaan yang kalian bayangkan sendiri aja, gimana menderitanya anak kecil yang terkurung di kondisi kayak gitu. Adegan party di MV Spring Day gue rasa nyambung juga sama cerita Omelas chingu, karena di cerpen itu diceritakan juga suasana meriah Festival Musim Panas di Omelas ketika itu. Susana yang yah gegap gempita, ramai, meriah.
  • Gimana keadaan anak itu lebih jauh? Pernah juga ada orang yang ke sana, ke tempat anak itu. Mereka ada yang datang dan menendang si anak agar dia berdiri. Ada juga yang ga pernah begitu dekat dengan si anak dan hanya memandang dari kejauhan dengan pandangan yang takut sekaligus jijik. Anak itu diberi makan juga meskipun sedikit. Wadah makanan dan air diisi dengan tergesa2 oleh mereka kemudian menutup lagi pintunya. Orang yang kesana tidak bicara apa2, namun si anak sesekali berkata “aku akan jadi anak baik, tolong lepaskan aku, aku akan jadi anak baik”. Anak itu masih ingat bagaimana cahaya matahari dan suara ibunya meskipun badannya lemah chingu, heartbreaking banget kan? Dia berarti masih bisa merasakan, masih sadar. Tapi, apa yang yang dia dapatkan? Ga ada jawaban untuknya. Anak itu di awal2 masih suka berteriak2 di malah hari untuk meminta bantuan chingu, dia menangis juga. Cuman, lama2 teriakan dan tangisannya makin berkurang dan berkurang. Badannya begitu kurus, dia ga punya daging di betisnya, perutnya membusung (kayak orang busung lapar). Dia hanya makan setengah mangkuk jagung setiap hari dan keadaannyapun telanjang. Dia bahkan duduk di atas tinja dan air seninya sendiri secara terus menerus. 100% kalian pasti ga tega ngebayanginnya. Gimana bisa ada manusia (masih anak2 pula) yang diperlakukan seperti itu, padahal kota itu begitu bahagia dan gegap gempita. Nyambung di MV “spring day” chingu. Ada kan adegan Jin kayak lagi di ruangan bawah dan diatasnya ada tangga menuju atas. Anak2 BTS pada naik ke atas sambil ngeliatin Jin di bawah dan Jinnya masih terus di bawah dengan muka ga bahagia. Gue rasa itu menggambarkan kisah Omelas ini chingu.
  • Orang2 di Omelas tahu ga kalo ada anak yang seperti itu di sana? Beberapa dari mereka pernah datang untuk melihat sendiri keadaan si anak. Namun, ada yang cukup hanya tahu saja kalo ada anak yang seperti itu di sana. Apapun itu, mereka semua tahu bahwa anak itu memang HARUS di sana. Kenapa? Karena mereka semua memahami bahwa semua kebahagiaan mereka, keindahan kota mereka, kelembuatan persahabatan diantara mereka, kesehatan anak2 mereka, kebijaksanaan murid2 di kota itu, semua skill mereka, bahkan semua panen yang melimpah dan cuaca yang bersahabat di langit mereka, semuanya bergantung pada penderitaan si anak. Dengan kata lain, jika si anak dilepaskan dan bisa menikmati cahaya matahari, diberi makan yang layak, dibersihkan dan diberikan kehidupan yang nyaman, maka semua kesenangan di Omelas akan hilang dan rusak. Intinya jika si anak bahagia, maka ribuan yang lain akan menderita. Kebahagiaan mereka harus dibayar dengan penderitaan si anak. Lalu, bagaimana akhir kisah ini? Pada akhirnya, ada orang2 yang memutuskan untuk pergi dari Omelas chingu. Ada youth, ada wanita, ada pria, mereka secara sendiri2 pergi dari Omelas melewati gerbang, lahan pertanian, terus berjalan menuju kegelapan malam dan tidak kembali. Tempat yang mereka tuju juga adalah tempat yang tidak bisa kita bayangkan. Si penulispun tidak bisa mendeskripsikannya, mungkin tempat seperti itu tidak ada. Meskipun begitu, diceritakan bahwa orang2 yang pergi dari Omelas terlihat mengetahui kemana mereka pergi. Ya, mereka adalah orang2 yang pergi dari Omelas (the ones that walk away from Omelas) *kembali lagi, again and again BTS mencoba memberi kita gambaran tentang kehidupan sosial yang ada saat ini chingu. BTS adalah grup yang terkenal sering berbicara tentang kehidupan sosial, humanisme dsb. Dan gue rasa “omelas” yang dimention BTS dalam MV “spring day” ini salah satunya. Gue rasa cerpen ini sangat bagus chingu. Memberi gambaran pada kita tentang banyaknya manusia yang acuh pada penderitaan orang lain. Asal dia bahagia, dia tidak peduli ada orang lain yang mungkin menderita karena dia. Manusia banyak kan yang buta terhadap penderitaan orang lain asal dia bahagia? Koruptor misalnya. Mereka bisa makan enak, tidur nyenyak, jalan2 ke luar negeri, shopping, tapi lihat, begitu banyak warga miskin yang menderita karena ulahnya. Cerpen ini tidak dipungkiri memang dilematis. Di satu sisi mereka kasihan, namun di sisi lain itulah satu2nya cara agar mereka bisa hidup enak. Pikiran mereka “tidak apa2 mengorbankan 1 anak, daripada korban ribuan orang”. Namun, bukankah setiap manusia itu berharga? Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi saja dari Omelas. Mereka memilih jalan yang berani, padahal belum tentu hidup mereka bakalan bahagia jika mereka pergi dari situ. Bahkan diceritakan mereka menuju tempat yang mungkin saja tidak ada. Cuman yang melegakan gue sebagai pembaca adalah mereka sepertinya tahu kemana mereka pergi. Gue rasa orang2 yang keluar dari Omelas adalah orang yang mau berfikir dan punya hati chingu. Daripada hidup menanggung beban nurani, lebih baik tidak menikmati kebahagiaan bersyarat seperti di Omelas dan mencari kehidupan yang lain. Meskipun kehidupan lain itu juga belum jelas, namun setidaknya tidak hidup dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain meskipun hanya satu orang. Gue rasa di MV “spring day” ada semacam adegan juga anak2 BTS terlihat keluar dari ruangan Omelas dan akhirnya ngeliat kereta api yang lewat setelah keluar dari lorong2 itu. Interpretasi gue adalah mereka memutuskan pergi dari Omelas dan take another life dengan naik snowpiercer yang sebenernya “ga lebih baik juga” dari Omelas. Masih inget kan gimana busuknya snowpiercer itu di postingan gue sebelumnya? Namun, mereka yakin itu adalah cara yang lebih baik, seraya berharap penderitaan mereka bakalan berakhir suatu hari nanti. Hari2 yang bahagia namun menyengsarakan hati di Omelas dan kehidupan yang menderita di snowpiercer ga akan selamanya, mereka bakalan bisa keluar dari semuanya dan mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik. Layaknya musim dingin yang panjang yang tergantikan hangat dan indahnya musim semi. Kalau di kehidupan nyata, mungkin kayak gini chingu, contohnya koruptor tadi. Jadi para koruptor itu mengakui salah dan rela untuk masuk penjara (kalo BTS kan ala2 masuk snowpiercer). Di sana memang ga enak, cuman pasti suatu hari bisa keluar. Nah setelah keluar dari penjara itu, mereka bisa memulai lagi kehidupan baru yang lebih baik. Pilihan yang sulit memang, cuman itulah yang terbaik. Ketika kita berbuat kesalahan, pasti ada konsekuensi yang muncul. Konsekuensi itu kita jalani saja, karena toh pasti akan berakhir suatu saat dan kemudian kita bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik. Namanya cerpen, karangan aja. Cuman gue rasa ada pesan yang baik chingu di cerita itu. Bahwa kita harus lebih peka pada penderitaan orang lain. Janganlah kita mengabaikan penderitaan orang lain hanya untuk mempertahankan kebahagiaan kita sendiri. Semua makhluk Tuhan setara, sederajat, wajib dikasihi semuanya. Gue jadi inget satu ayat di Al Quran Surat Al Maidah ayat 32 “…barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan2 dia telah memelihara kehidupan semua manusia..”. Bayangkan jika semua dari kita memelihara kehidupan satu saja manusia yang menderita di sekeliling kita. Jika semua orang melakukan hal yang sama, apa yang akan terjadi? Maka seluruh umat manusia akan terpelihara kan? Inilah pentingnya kepedulian terhadap sesama chingu. Jika semua orang menolong satu saja saudaranya, maka pasti dunia ini akan sangat sangat sangat berubah menjadi lebih baik. Di kehidupan yang sudah semakin tidak jelas ini, kehidupan yang cuek, tidak peduli penderitaan orang lain, mari kita jadi “orang2 yang keluar dari Omelas” chingu. Kita keluar dari zona nyaman kita dan lebih mau peduli terhadap penderitaan orang lain meskipun itu berat. Kita mungkin bisa tidak sebahagia dulu, namun pasti hati kita akan lebih tenang dan damai, karena yakin apa yang kita lakukan dan pilih adalah benar. Apapun yang bisa kita berikan untuk meringankan beban orang lain, meskipun sedikit, lakukanlah. Dunia butuh lebih banyak orang2 seperti itu. Ini nasehat ke gue juga chingu. Semoga cerpen Omelas yang diperkenalkan BTS ini ada manfaatnya bagi kita. Kita bisa mengambil pembelajaran darinya dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik, semoga…*
  • *Hal terakhir yang gue mau bahas di postingan ini adalah tentang sepatu chingu. Mungkin ada yang bertanya, kenapa ya di MV “Spring day” pake ada sepatu2nya segala? Ada sebuah hal yang menarik tentang ini yang gue temukan chingu. Gue nemu suatu site (askakorean) dan disana ada yang nanya ke orang Korea “kenapa di film Asia orang yang bunuh diri melepas sepatunya sebelum terjun dari gedung/jembatan? apakah itu terjadi juga di dunia nyata?”. Jawaban dari pertanyaan itu adalah memang ada yang seperti itu di sana chingu, meskipun alesannya juga ga begitu jelas. Karena kita juga ga bisa nanya ke orang yang sudah mati, benar ga alesannya itu. Meskipun begitu, mungkin saja mereka melakukannya karena pernah melihat/mendengar orang melakukan itu sebelumnya. Mereka mungkin pernah menonton adegan dalam film yang seperti itu. Dalam jawabannya, si penjawab bilang kalo ada 2 alasan kenapa mereka melakukan itu. Yang pertama adalah orang itu ingin meningggalkan jejak di dunia. Orang yang bunuh diri dengan melompat dari jembatan misalnya, ada kemungkinan tubuhnya ga akan ditemukan, namun jika meninggalkan sepatu, maka mungkin saja orang tahu dimana dia berada setelah dia melompat. Teori yang lain adalah itu merupakan cara orang itu dalam menyiapkan kematiannya secara mental. Sama seperti orang2 Asia yang melepas sepatu sebelum memasuki rumah. Melepas sepatu juga semacam mempersiapkan orang itu untuk memasuki dimensi yang baru, dimensi setelah mati. Kita ga bisa pura2 tidak tahu kan kalo di Korea banyak juga kasus bunuh diri? Gue rasa MV ini semacam mengencourage/menguatkan orang2 untuk lebih kuat chingu dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Masalah memang kadang berat, kayak yang tergambar di “snowpiercer” dan “omelas” tadi, sampai mungkin to the extend pengen bunuh diri aja saking beratnya, tapi itu bukan jalan yang tepat. BTS kayak bilang “jangan mati, jangan pergi, seberat apapun, pasti setelah hal2 sulit akan datang hal2 yang lebih baik. Penderitaan ga akan kita jalani selamanya, semua akan berganti, bertahanlah, bertahanlah, jangan menyerah. BTS juga pernah bilang kan kalo mereka pengen orang2 ga menyerah setelah mendengar pesan2 dalam karya mereka? Bukan cuman untuk publik Korea, gue rasa kitapun sama aja chingu. Ada saat2 berat dalam hidup kita yang mungkin kita udah mau nyerah. Cuman, ingatlah bahwa itu bukan cara terbaik. Musim dingin yang dingin akan berganti dengan musim semi yang hangat. Setiap mendengar “spring day”, setiap kali melihat MVnya, semoga kisah2 kayak “snowpiercer”, “omelas”, “personnes” dan bahkan sepatu ini membuat kita lebih semangat chingu. Selalu ingatlah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Musim apapun akan berganti. Dinginnya musim dingin akan berganti dengan musim semi yang hangat. Selalu percaya pada diri sendiri dan selalu memohon pertolongan Tuhan, kita pasti bisa melaluinya, FIGHTING!!! Semangat buat kita semua chingudeul!

Akhirnya, semoga kita bisa sama2 belajar dari MV “spring day” ini yah chingu. Kita bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat darinya. Selalu semangat chingu, FIGHTING! ^^

a

b

c

d

f

g

h

i

k

l

e

Adv:

Chingu, gue punya olshop nih, minta tolong disupport yah~ ^^

Like dan Share ke temen2 kalian yah, neomu kamsahamnida.

Namanya namu.shopID, ini linknya:

https://www.facebook.com/namu.shopID/

#Peace #Love #Happiness           

#Live #Love #Learn #Laugh 

#Share #Respect #Inspire

#StayGold #StayTrue #StayReal